Perkembangan Anak Kami

Bangganya menjadi seorang ibu rumah tangga yang setiap hari harus mengasuh anak-anaknya dengan tangan sendiri. Melihat setiap detik perkembangan serta pertumbuhannya mulai berubah dari waktu ke waktu. Diusia 2 bulan anak-anak mulai menampakkan perkembangan yang sangat pesat. Mulai dari fisik yang semakin bertambah panjang dan bertambah berat badannya. Sejak saat itu aku mulai menyadari penting dan amat berartinya sosok ibu yang dengan tangannya sendiri merawat anak-anaknya. Akan nampak berbeda dengan seorang ibu yang mengasuh anaknya menggunakan bantuan baby sitter. Terlebih lagi dengan gampangnya menitipkan anaknya kesana-kemari dengan ringan hati.
Sungguh aku mulai belajar memahami apa-apa saja kunci seorang ibu dengan sangat mudah akan dipatuhi dan diikuti setiap nasehatnya oleh anak-anaknya. Ialah tidak lain dan tidak bukan karena seberapa besar dan tulusnya seorang ibu dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mungkin ketika kecil anak-anak terlihat tak memperhatikan dan mengingat apa saja yang dilakukan ibunya kepadanya. Namun memori alam bawah sadarnya merekamnya, dan itu menjadi kunci ketika kelak ia dewasa, hati kecilnya akan berat hati jika suatu ketika ingin berlainan arah dengan apa yang dinasehatkan ibunya.
Aku pun berharap begitu, bukan semata kelak aku ingin dipatuhi anak-anakku. Diluar itu, hal mendasar adalah keinginan untuk meraih ridhoNya, mendapat surgaNya atas segala apa yang aku lakukan didunia ini. Investasi akhirat yang dunia pun bisa kita genggam. Semoga..semoga..
Dalam aktivitasku sebagai ibu rumah tangga, aku pun serasa dibuat takjub dan bangga. Oh Allah..putra-putriku sudah bisa tengkurap usia 5 bulan dan mulai merangkak usia 6 bulan disusul tumbuh gigi. Dan ketika 7 bulan mereka mulai bisa berdiri sendiri dengan berpegangan meja, kursi, kreta dorong dan benda seisi rumah yang sebisanya mereka raih untuk berpegangan. Ketika usia 8 bulan ia mulai semakin lihai melangkahkan kaki, inginnya sudah dititah kesana-kemari. Sudah tak nyaman berada dalam gendongan karena ia semakin aktif belajar berjalan. Dan diusia hampir 9 bulan tepat, ia mulai berjalan merambat dari kursi satu ke kursi lain dan dari meja ke kursi tanpa kupegang. Aku hanya menjaga dari belakang semisal ia terjatuh, selebihnya aku memberikan motivasi dan arahan pada mereka.
Sungguh melelahkan, itu pasti. Semua orang yang berumah tangga mengalaminya. Mengalami bagaimana susah-senang yang membanggakannya untuk dapat mengasuh putra-putri tercinta mereka hingga tumbuh besar. Jika menikahnya dengan komitmen siap menanggung segala resiko apapun itu, maka sudah menjadi konsekuensi dari komitmen untuk berlelah-lelah ditengah kebahagiaan yang melimpah ruah.

Bunda dan Ayah bangga pada ananda sholih-sholihah, Hafizh-Hafizhah..
Tulisan ini kado untuk ananda sekalian di-9 bulan..

Duhai Anandaku..

Bunda terus berpikir, nak..berpikir tentang segala hal berkenaan dengan masa depan. Masa depan kita bersama, keluarga ini, ayah, bunda, serta kalian. Bagaimana kelak ketika kalian dewasa, kalian saling mengenal sebagai abang-kakak saudara kembar laki-laki dan perempuan. Pasti sangat lucu sekali, mengesankan, seru, dan banyak lagi rasa yang akan mewarnai kehidupan kita.

Namun yang tak kalah hebatnya menggelayuti batin bunda adalah, bagaimana seandainya tiba-tiba bunda tiada ketika kalian masih belum mengenal bunda sebagai bunda kandung kalian. Bagaimana masa depan kalian tanpa bunda kandung yang merawat kalian. Bagaimana kehidupan kalian ketika taka da bunda. Apa yang harus bunda persiapkan. Atau ketika kita tiba-tiba ditinggal ayah selamanya. Perjuangan yang seperti apakah yang harus bunda tempuh bersama kalian. Bagaimana kalian tanpa ayah atau tanpa bunda, nak..

Ya Allah..bercucuran deras setiap kali hal tersebut melintasi pikiran bunda. Tentu akan sangat berat ya nak.. Bahkan akan teramat berat ketika kami tak sempat membekali kalian dengan agama, mengenalkan kalian pada Sang Maha-Maha. Sudah barang tentu kalian akan terpontang-panting tak karuan tanpa pegangan yang kuat. Dan siapa yang akan mengenalkan kalian pada-Nya, pada Islam yang mulia.

Sejak saat itu, bunda mulai sedikit menata hati, pikiran, dan segenap diri bunda untuk mempersiapkan kalian menjadi khoiru ummah. Buah karya terbaik, ukiran yang dahsyat yang akan mengenal diri kalian sebagai hambanya Allah. Yang harus menghamba dan memperjuangkan Islam sesuai dengan doa dalam tiap suku kata dari nama kalian yang diberikan ayah.

Sayang..kelak ketika bunda tiada. Semoga kalian menemukan tulisan ini, merenungi dan membaca dengan hati. Mengertilah bahwa kalian adalah anak ayah-bunda yang sangat kami banggakan, kami sayangi, dan membawa berkah luar biasa bagi kami sekeluarga.

Bunda berharap kalian mampu menjadi insan yang bertaqwa, yang patuh sama Allah. Berbakti sama orangtua serta kakek-nenek kalian. Salam sayang, bunda…

 

Gambar

Lelaki itu…

Lelaki itu yang slalu kami contoh, kami teladani..

Lelaki yang selalu lembut terhadap para istrinya..

Lelaki yang selalu bersujud walau dirinya telah dijamin surga..

Lelaki yang memahami bagaimana memimpin dan mengarahkan umatnya..

Lelaki yang kemuliaannya lebih dari manusia lainnya..

Lelaki yang selalu dirindu umat yang menyayanginya..

Dialah Rasulullah Muhammad SAW..

Dialah yang patut dijadikan contoh oleh semua orang didunia ini..

Termasuk kamu, lelaki yang tengah dan akan terus menjadi pendamping hidupku sampai akhir hayat..suamiku! Kau tidak akan pernah bisa menandinginya. Kau pun tidak akan pernah sehebat dia, Nabi kita. Namun dimataku, kau selalu istimewa dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Kau ajarkan dengan sabar berbagai hal yang belum bisa dan belum kuketahui. Kau maafkanku atas segala kealpaan dan salahku yang hampir setiap kali kulakukan. Kau memelukku ketika isak tangisku akan suatu ketakutan. Kau tenangkanku dalam kata lembutmu. Kau hujamkan setiap semangat yang kau punya, agar juga terpatri dalam jiwaku. Kau menggandengku untuk semakin mendekat padaNya. Kau tegaskan, jika itu mengenai hukum syara’. Dan kau beri keringanan jika perihal remeh duniawi. Kau sungguh indah. Ketangguhanmu dalam memimpin rumah tangga kecil ini sungguh luar biasa. Suamiku, dia tak sempurna. Namun sejauh hati ini merasakannya, dia yang terbaik yang diberikan Allah untukku. Dia karunia terindah didunia, dan semoga Allah mempersatukan kami di surgaNya.

Sering butiran air mata menetes diam-diam, menyadari bahwa diri ini belum pantas disebut isteri sholehah. Tapi kau tetap tersenyum dan terus menggandengku agar aku tak terjatuh. Untaian do’a terlafadz untukmu, untukmu yang selalu sabar membimbingku dan menerima segala kelebihan dan kekuranganku.

Kau puji aku setinggi langit, bahkan sampai aku merasa bahwa pujian itu sungguh hanya semu. Namun aku tahu bahwa itu adalah usahamu dalam memotivasiku. Sering aku usapkan tanganku diatas keningmu, hanya untuk sekedar memberikan kenyamanan atas segala kelelahan yang menggelayutimu di pagi hingga malam hari kau mencari nafkah.

Sayang, bukan pujian mereka, komentar bagus mereka dan kesemuanya itu yang akan membuatmu kokoh. Lebih dari itu, semua yang telah kau lakukan untukku, untuk keluarga, dan untuk umat akan berbuah bertambahnya imunitas imanmu dan kekokohan akidahmu dalam meyakiniNya. Sayang, tetaplah kita saling berpegangan tangan untuk meraih ridhoNya. Do’akan aku agar aku bisa mengganti setiap peluhmu dengan menjadi isteri sholehah yang dapat membersamaimu di surgaNya kelak.

Sayang, uhibukka fillah..🙂

Konsep Berpikir

Kali ini saya akan berbagi mengenai dasar pemahaman mengenai psikologi kognitif. Pada semester 6 kali ini, saya mengambil matakuliah wajib psikologi kognitif. Matakuliah ini akan membawa kita untuk mendalami berbagai macam atau seluk-beluk yang menyebabkan kita dapat berpikir, berpengetahuan, sampai menyelesaikan masalah. Yang kesemuanya tersebut terpusat dari proses berpikir.

Hampir sama dengan konsep Syeikh Taqiyuddin mengenai konsep berpikir, disini psikologi yang merupakan ilmu warisan dari ilmuwan sekuler menjelaskan bahwa, psikologi kognitif akan menjelaskan bagaimana kita memproses informasi, yang didahului oleh penangkapan informasi melalui panca indera kemudian dilanjutkan dengan masuknya informasi melalui syaraf-syaraf yang mengirimkan informasi tersebut menuju ke otak sehingga dapat diproses. Kemudian otak akan memprosesnya dengan memasukkannya kedalam memory, ada 2 macam memory. Memory jangka panjang dan jangka pendek.

Mudahnya untuk memahami tentang memory, jika memory jangka panjang maka informasi tersebut akan dimasukkan kedalam bagian tertentu yang sifatnya lama dan cenderung mengendap, yang suatu saat nanti akan dimunculkan ketika diperlukan. Jika memory jangka pendek, hanya sebatas mengingat untuk keperluan sebentar kemudian dibuang karena bisa jadi si individu tersebut merasa tidak membutuhkannya lagi.

Informasi tersebut akan digunakan untuk mengkaitkannya dengan informasi terbaru yang didapatkan sehingga menjadi suatu kesimpulan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ketika dibutuhkan.

Dalam konsep berpikir yang dirumuskan oleh Syeikh Taqiyuddin An Nabhani, beliau menjelaskan bahwa proses individu memperoleh suatu pengetahuan atau informasi adalah dengan menangkapkan melalui panca indera kemudian memasukkannya kedalam memory. Dari memory kemudian akan dikaitkan dengan informasi lainnya, yang kemudian akan “dipanggil” jika dibutuhkan. Adanya informasi terdahulu, akan mempengaruhi informasi baru yang diterima oleh individu. Sehingga individu dapat memahami suatu hal baru, dikarenakan individu tersebut telah memasukkan informasi terdahulunya.

Dalam hal ini, akal sebagai pusat proses berpikir akan menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Jika informasi yang didapatkan lebih banyak mengenai hal-hal yang buruk. Maka hal tersebut akan mempengaruhi individu teresebut dalam memecahkan masalahnya.

Karena itu, diwajibkan atas seluruh kaum Muslim menuntut ilmu agama (Islam) sebelum mendalami ilmu-ilmu lainnya yang bertentangan dengan Islam. Karena Islam memberikan “garis” yang jelas mengenai aturan hidup dalam menyelesaikan segala macam masalah. Otak kita haruslah dimasuki oleh informasi-informasi yang baik-baik, agar dalam menyelesaikan masalah akal akan memproses dengan baik dan menghasilkan kesimpulan pemecahan masalah yang baik.

Psikoterapi dalam Kaitannya dengan Kehidupan Islam

Hari ini adalah hari pertama saya kuliah, seperti biasanya, saya berangkat diantar oleh suami tercinta. Sesampainya dikampus saya menuju ke ruang dimana nantinya proses perkuliahan kami dilasanakan disana. tidak terlalu ramai, mungkin banyak dari mahasiswa yang belum kembali dari kampungnya atau masih dalam perjalanan, atau bahkan masih terbiasa dengan rutinitas liburan yang biasanya bangun di siang bolong. Ya yang jelas, hari ini alhamdulillah semangat untuk menuntut ilmu masih terpatri  dalam lubuk hati ini, haha sehingga itu yang membuat saya berangkat kuliah.

Beberapa menit menunggu, akhirnya dosen pun datang. Bapak Limas Sutanto, dosen tersebut hampir tak pernah kulihat disekitaran kampus, kata seorang teman beliau sibuk banget. Penampilan diawal, seperti bukan dosen, lebih ke dokter. Jiahh, emang beliaunya seorang dokter, hehe

Beliau dokter kejiwaan dan ahli psikoterpi, beliau juga menjadi ketua di tingkat regional untuk bidang psikoterapi, member dari dewan kehormatan suatu organisasi psikoterapi internasional, ketua divisi nasional bidang psikoterapi, dan masih banyak lagi gelar serta jabatan yang beliau miliki, yang sangat menunjang kredibilitasnya sebagai seorang dokter, ilmuwan, dan motor penggerak bagi dunia psikoterapi.

Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi dan diambil dari apa yang beliau kasih pada pertemuan pertama. Beberapa yang berhasil saya masukkan dalam memori sempit saya adalah bagaimana caranya memulihkan kondisi otak seseorang yang sedang sakit atau mengalami gangguan dalam membran-membran selnya.

Jadi begini saudara-saudara, ketika seseorang mengalami suatu gangguan dalam kepribadiannya, segala macam gangguan yang itu muncul dan mengganggunya untuk menjalani aktivitasnya sebagaimana mestinya dan menjadi tidak produktif sebagai seorang individu, itu berarti ada sesuatu yang terjadi pada sel-sel diotaknya. Saat gangguan tersebut diderita, menurut ilmu kedokteran, maka yang terkadi didalam otak adalah terputusnya syaraf-syaraf yang saling menghubungkan satu sama lain, sehingga keberfungsiannya menurun atau bahkan tidak berfungsi. Hubungan antar syaraf tersebut bisa terputus dan menyambung kembali tergantung bagaimana kondisi kejiwaan atau kondisi diri dari individu. Dan ketika suatu ketidakberfungsian terjadi, maka hal terpenting yang dilakukan oleh psikoterapis adalah (kata dosen saya)

1. Mengesinambungkan afeksi

2. Mengoptimalkan penanggapan empatik

3. Validasi Pengalaman

Ketiga hal tersebut dilakukan oleh terapis kepada klien atau pasiennya dengan jangka waktu yang cenderung lama guna pengoptimalan penyembuhannya. Dan langkah yang bisa ditempuh adalah dengan melakukan hubungan transferensi, yang dilakukan antara terapis dengan kliennya. Hal tersebut adalah sebuah proses penggambaran pengalaman bawah sadar dari pasien, agar pasien dapat menggambarkan reka ulang kunci dari hal-hal yang terjadi di masa lalunya dan bawah sadarnya yang menyebabkannya mengalami gangguan. Dari sana kemudian terapis akan dapat menstrukturkan apa penyebab dan penanganan yang harusnya diterapkan pada klien agar bisa membantu klien untuk kembali kekondisi yang lebih baik (dalam hal ini sembuh).

Dosen saya mengatakan bahwa, untuk menjadi seorang psikoterapis butuh bakat. Bakat? Iya, bakat untuk mengenali orang secara mendalam, mendiagnosis, dll. Sebenarnya hal tersebut bukan bakat, semua orang bisa asalkan mau belajar. Artinya, hal tersebut bisa diasah dengan belajar dan terus belajar semakin memperbanyak jam terbang untuk praktek, maka akan terbentuk pola-pola yang mengkerangka diotak kita, sehingga dapat kita olah menjadi suatu pengetahuan yang bermanfaat bagi diri kita.

Ilmu kejiwaan ini sebenarnya dulu sudah pernah ditemukan diawal-awal oleh seorang ilmuwan Islam yang menggeluti bidang kejiwaan. Namun, dikembangkan oleh ilmuwan Barat yang sekuler, sehingga yang lebih sering kita tahu dan kita pelajari adalah ilmuwan Barat serta ilmunya yang terkadang sadar atau tidak menjerumuskan kita terhadap mengeroposan akidah Islam. Banyak dari kita, atau bahkan mungkin terkadang, saya pun ikut larut didalamnya karena ilmu yang saya terima termasuk baru bagi saya, jadi saya berlaku ibarat gelas kosong yang akan menerima apa saja yang masuk kedalamnya. Namun ketika dihubungkan dengan konsep bagaimana Islam mengatur, maka akan sangat berbeda dan banyak sekali yang bertentangan dengan hadlarah (pandangan hidup) Islam. Oleh karena itu, penting bagi kita umat Islam untuk selalu mengupgrade tsaqofah Islam kita sehingga kita bisa menyaring apa-apa yang bertentangan dengan hadlarah Islam. Namun jika ilmu yang diberikan adalah ilmu yang tidak bertentangan dengan pandangan hidup Islam yang benar, maka tidak menjadi masalah. Misalkan, psikoterapi dengan sedikit memodifikasi langkah-langkahnya dan apa yang kemudian dimasukkan kedalam mindset pasiennya.

Jadi, belajar Islam itu lebih penting dan lebih utama kawan, karena itu nantinya juga dapat menjadi penyaring bagi kita ketika memperoleh ilmu yang baru. Selamat belajar🙂