Re-Orientasi: Orang Tua-Tua

Dulu..
Iya, dulu..
Orang Tua-Tua dimuliakan
Diletak diatas, dimuliakan
Dijunjung dalam setiap kesempatan

Dulu,
Iya, dulu..
Orang Tua-Tua tak dipandang langsung
Semua tertunduk mendengar, menyimak saat petuah bersenandung
Mata dan batin merendah menatap tanah
Semua luruh mewadah

Kini,
Orang Tua-Tua
Berbicara dikangkangi teknologi
Anak mendengar, seolah
Sambil menatap layar persegi panjangnya
Ia acuh, pongah
Dasar, Bocah, Bedebah!

#rumbelmenulis_iip_pekanbaru
#tantanganmenulis_februari
#day7
#orangtua

Iklan

Opiniku: Jangan Terjebak untuk Mengkambing-Hitamkan Luka Pengasuhan Masa Lalu

Akhir-akhir ini saya banyak membaca artikel mengenai parenting yang membahas luka pengasuhan di masa lalu. Awalnya saya merasa setuju dan membenarkan isi dari artikel tersebut.

Suatu ketika saat di dalam kelas perkuliahan, dosen saya pernah menceritakan kisah seorang lelaki yang sangat tempramen pada kekasihnya. Suatu ketika mereka makan malam, dan si perempuan dengan semangatnya memberi tambahan nasi ke piring si lelaki. Sepele bukan? Bahkan terlihat seperti kejadian positif karena si perempuan care dengan si lelaki. Namun apa yang didapat? Si lelaki sangat marah. Si perempuan tak pernah melihat lelaki ini marah dengan hebatnya. Sampai suatu ketika seorang psikolog tempatnya konsultasi berusaha mengorek informasi yang pernah dialami si kliennya bahkan hingga ke masa lalunya. Rupanya dia benci jika orang menambahkan nasi ke piringnya karena dulu dia sering mendapat perlakuan seperti itu oleh ibunya. Ia dipaksa makan nasi dengan porsi yang dia tidak inginkan. Dan pengalaman itu disimpannya dalam long term memory. Hingga suatu ketika, ada kejadian yang serupa maka respon yang muncul adalah amarah, amarah yang dulu dipendam muncul bak gunung meletus.

Luka pengasuhan ini memang kenyataannya ada. Dan menimpa siapa saja. Namun rasanya tidak adil jika kita terus fokus kesini terlalu lama. Karena yang terjadi kita akan terjebak dalam tekanan psikologis untuk tetap menyalahkan orang tua kita. Berkutat pada dendam masa lalu. Dan harusnya ketika kita sadari bahwa luka pengasuhan masa lalu kita begitu berat, maka berdamai dengan masa lalu, menerima pengalaman hidup ini dan memaafkan kejadian yang sudah terjadi. Jangan terjebak mengkambing hitamkan luka pengasuhan masa lalu atas ketidak-berdayaan kita dalam melakukan pengasuhan positif masa kini pada anak-anak kita.

 

 

#rumbelmenulis_iip_pekanbaru

#tantanganmenulis_februari

#day6

#masalalu

Mengapa Kita Harus Menjaga Bumi?

Bumi adalah planet yang letaknya berada pada urutan ketiga dari matahari. Bumi juga merupakan planet terbesar kelima dari semua tata surya yang ada. Bumi merupakan tempat tinggal semua makhluk yang ada di dunia ini.

Bumi terdiri dari berbagai lapisan bumi. Ada inti, kerak, atmosfer, litosfer, biosfer, dan apalagi ya? Yang masih ingat pelajaran di SD bisa ditambahkan ya.

Kondisi bumi saat ini sudah sangat memprihatikan. Kecanggihan teknologi membuat segala hal bisa dimanipulatif. Manusia sudah semakin hidup dalam kenyamanan yang memanjakannya. Rasa ingin praktis, ingin cepat, ingin ringkas membuat manusia menjalani aktifitas hidup kesehariannya dengan memanfaatkan kecanggihan terkini.

Sebut saja, pospak. Sampai saat ini, saya pun juga menyadari bahwa pemakaian pospak menjadi pilihan instan yang masih mendominasi diri saya dan juga kaum ibu rumah tangga lainnya.

Namun kita sering lupa untuk berpikir jauh sampai tataran bagaimana limbah pospak ini gagal terolah secara alamiah oleh bumi. Dia bersifat kimiawi, ada unsur plastik dan unsur kimiawi lainnya.

Namun disamping itu, kini juga mulai muncul gerakan-gerakan sadar lingkungan, sadar akan penyelamatan bumi, dan semacamnya. Di Kota-kota besar di Indonesia, sudah mulai digalakkan program positif mengenai hal ini. Misalnya: program 3R (Recycle, Reduce, Reuse), konsep Zero Waste, Reboisasi, Bank Sampah, dll.

Dari mulai seminar, workshop, training, sampai action terjun langsung ke lapangan. Juga mengedukasi masyarakat dari tataran RT, RW, kelurahan, dll.

Dalam agama kita, Islam pun mengajarkan bahwa salah satu bentuk syukur kita adalah dengan menjaga, merawat dan membantu keberlangsungan kebaikan yang ada. Sama seperti terhadap bumi, kita pun harus merawatnya dan menjaganya. Prosesnya memang melelahkan tapi yang perlu kita ingat adalah bagaimana proses ini dicatat oleh Allah swt sebagai upaya kita mensyukuri anugerah dariNya.

Kita harus peduli dengan kondisi lingkungan kita. Karena kita hidup tidak asal hidup. Ada timbal balik dengan alam. Jika kita menjaga alam, maka alam pun akan memberi manfaat kebaikan pada kita.

Meski gerakan ini bisa jadi kita masih melakukannya dalam tataran individual, namun gerakan individual ini sangat membantu gerakan global yang ada.

Menjaga bumi dengan tidak memakai plastik berlebih, mulai dengan mengurangi penggunaannya. Kemudian mendaur ulang, dll. Banyak menanam tanaman. Hal saya pernah baca haditsnya bahwa ketika kita dengan sengaja menanam biji atau tumbuhan dengan tujuan untuk memberi manfaat bagi makhluk hidup lain seperti hewan, atau orang lain, maka kita mendapatkan pahala, InsyaAllah. Kurang lebih begitu redaksi meski tidak sama persis. Nanti bisa dicek ulang.

Menjaga bumi juga merupakan cara untuk menjaga diri kita. Banyak isu-isu terkait global warming, air laut menyusut, kutub utara mencair, dll. Apakah kita harus diam dengan mengetahui hal ini? Ataukah nurani kita ingin bergerak bersama untuk menyelamatkan bumi ini?

 

#rumbelmenulis_iip_pekanbaru
#tantanganmenulis_februari
#day5
#bumi

Rumus Orang Sukses

Akhir-akhir ini saya lebih sering membaca, melihat dan berinteraksi yang berhubungan dengan keberhasilan-keberhasilan seseorang. Saya memang sengaja membuat diri saya larut dalam semangat dan optimisme yang dipancarkan oleh orang-orang sukses tersebut.

Selain melalui sosial media, saya juga menyaksikan video-vidoenya melalui youtube, kemudian memberikan penguatan melalui bacaan buku. Sehingga apa yang saya dapat bisa saya simpulkan dan saya rumuskan untuk saya aplikasikan dalam diri saya sendiri. Sebenarnya ada yang paling penting, yaitu “ngobrol” dengan suami. Banyak hal yang saya pelajari dari suami untuk saya sampai dengan perubahan yang sekarang ini.

Meski belum semua bisa saya lakukan, tapi apa yang bisa saya “cicil” kerjakan, maka pasti saya kerjakan. Prinsip saya, perubahan itu dimulai dari kesadaran. Proses mengenali diri sendiri, memaknai pengalaman hidup dan mengambil hikmah kehidupan untuk dijadikan pijakan “kesadaran”.

Tidak semua orang yang ingin sukses atau ingin berubah, ia benar-benar inginkan itu. Banyak dari mereka yang masih berkutat dengan hal-hal yang membentengi dirinya untuk sukses. Apa itu?

A: Alasan
Terlalu banyak alasan. Ingin berubah, ingin sukses, alasannya kalau nggak dikasih fasilitas yang bagus ya nggak bisa sukses, dst.

T: Tunda
Menunda menjadi musuh bagi orang yang ingin sukses. Orang sukses tidak akan menunda hal-hal baik yang harus dilakukannya. Ibarat sukses harus naik tangga, maka jika menunda untuk menaiki anak tangga, maka jangan harap akan sampai pada puncak tangga kesuksesan.

So, jika ingin sukses maka kita harus fokus. Fokus mengupayakan dengan kesungguhan agar kita keluar dengan kesungguhan itu. Fokus bukan berarti kita jadi egois dengan memikirkan diri kita sendiri. Fokus juga bukan berarti jadi apatis dengan kondisi lingkungan sekitar. Yang dimaksud fokus adalah kita terus berupaya meniti langkah-langkah kecil menuju tangga kesuksesan tersebut. Tanpa membuat alasan dan menunda. Jika kita ingin sukses ya lakukan apa yang harus kita lakukan. Misalnya: saya ingin sukses lulus SNMPTN, ya kerjakan latihan soal, perbanyak ibadah, belajar dengan rajin. Bukan semakin mencari alasan, eh nggak nyaman belajarnya, eh kurang ini itu. Abaikan alasan itu. Itu adalah bisikan setan. Kerjakan apa yang harus kita kerjakan. Dan yakin, yakin bahwa kita akan sukses. Dari keyakinan maka akan muncul percaya diri, percaya pada diri sendiri ini bagus untuk afirmasi diri secara positif.

Rumusnya:
A+T=0
Alasan + Tunda = Hasilnya Nol, tidak sukses.

Maka,
F+Y+S=100
Fokus + Yakin + Sungguh-Sungguh = Totalitas diri (100%)

Jika kita sudah maksimalkan ikhtiar, maka kemungkinan besar hasil akan sesuai dengan usaha kita. Namun jika ternyata meleset, hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita tawakal, tidak akan terlalu sedih karena ikhtiar kita sudah maksimal, kita sudah mengupayakan yang terbaik. Apa yang kita jalani, proses demi proses adalah tabungan kesuksesan kita di masa yang akan datang. Maka yakin pada Allah, bahwa Allah akan mengabulkan doa dengan 3 cara.
1. Dikabulkan langsung
2. Dikabulkan dengan diganti yang terbaik
3. Ditunda sampai nanti saat terbaik

Jadi, sebagai upaya diri saya untuk mengikat ilmu dan semangat, maka saya menuliskan ini. Semoga menjadi pengingat bagi diri saya selalu.

 

#rumbelmenulis_iip_pekanbaru

#tantanganmenulis_februari

#day4

#bebas

Ketahanan Keluarga

Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga mempunyai peran terpenting dalam membentuk arah kesuksesan suatu bangsa. Peran keluarga sangat besar bagi suatu bangsa. Dalam sebuah keluarga akan terlahir generasi penerus yang akan menentukan nasib suatu bangsa.

Jika suatu keluarga dapat menjalankan fungsi atau perannya dengan baik, maka kemungkinan besar akan untuk terbentuk kualitas bangsa yang baik untuk kemajuan suatu bangsa. Begitu juga sebaliknya, jika suatu keluarga gagal menjalankan fungsi atau perannya dengan baik, maka akan sangat memungkinkan akan terbentuk kualitas generasi yang rendah bahkan menjadi beban sosial suatu bangsa.

Tingkat keberhasilan peran suatu keluarga dapat kita lihat dari proses yang berlangsung di dalamnya. Tingkat ekonomi suatu keluarga biasanya akan menentukan suatu keluarga itu berhasil menjalankan fungsinya atau tidak. Namun itu dilihat dari kacamata kaum kapitalis. Beda dengan seorang Muslim yang ia harus melihat suatu keberhasilan keluarga jika proses di dalamnya selalu menggantungkan sesuatu pada Allah swt. Apa yang dilakukan haruslah sesuai dengan syariatNya. Tidak melanggar ketentuanNya dan melaksanakan perintahNya. Maka, seperti kata Ust Felix Siauw, bahwa “Taat bahagia, Maksiat sengsara”.

Kebahagiaan adalah manifestasi dari berhasilnya keberlangsungan proses dalam suatu keluarga. Bahagia yang dimaksud pun bahagia dalam keberkahan Allah swt. Hati tenang, yakin pada Allah. Mendidik dengan mengharap ridho Allah, tidak mudah stress. Melayani suami mengharap ridho Allah, apapun yang dilakukan, lelahnya karena Lillah.

Untuk mewujudkan hal ini tentu tidak mudah. Ada proses yang harus dijalani. Ada ujian dan tantangan dalam keberlangsungannya. Sebuah proses yang panjang akan dilalui oleh sebuah keluarga untuk adaptasi satu sama lain. Suami dan istri yang merupakan cikal bakal terbentuknya keluarga, berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Pola pikir, pola sikap, adat, kebiasaan dan hampir semuanya, berbeda. Masing-masing darinya tidak bisa memaksakan satu sama lain demi egoisme sesaat. Namun alangkah baiknya jika masing-masing darinya saling melengkapi dan menumbuhkan kebaikan serta berlapang dada menerima kekurangan dan kelebihan. Bersikap luwes atau lentur akan memudahkan proses keberlangsungan dalam sebuah keluarga.

Dalam proses pembentukan suatu keluarga membutuhkan sebuah adaptasi atau penyesuaian, seperti yang sudah disampaikan diatas. Penyesuaian yang paling utama adalah pada suami-istri, kemudian dengan keluarga besar kedua belah pihak. Penyesuaian yang baik dan positif akan membentuk suatu ketahanan dalam sebuah keluarga.

Ketahanan adalah modal bagi suatu keluarga untuk menghadapi tantangan baik dari dalam maupun luar. Tantangan dari dalam biasanya timbul karena perbedaan pengalaman hidup dan pemaknaan dalam sebuah peristiwa kehidupan yang dijalani. Sehingga proses yang ada menjadi sangat dinamis dan perlu adanya suatu penerimaan dari masing-masing untuk saling memahami dan mengerti.

Tantangan dari luar biasanya terkait, tekanan ekonomi, hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan, gangguan pihak luar, dll. Ini semua perlu untuk menanamkan suatu ketahanan keluarga dengan dilandasi akidah yang kuat dan berpegang teguh pada syariatNya.

Tiada Dzat lain yang patut kita jadikan tempat kembali dan bergantung melainkan hanya Dia yang Satu, Allah swt.

 

#rumbelmenulis_iip_pekanbaru

#tantanganmenulis_februari

#day3

#keluarga

Wujud Cinta Karena Allah

Malam ini, saya membuka pesan dari salah satu whatsapp group, Antologi Umroh. Begitu bahagia tak terkira, kabar gembira datang dari Mbak Julia, motor penggerak kami. Beliau menyampaikan bahwa Buku yang kita garap bersama sudah menemui titik terang. Setelah sebelumnya masih terkendala di pengurusan ISBN dan percetakan. Banyak tawaran dari berbagai penerbit. Namun nampaknya Mbak Jul, begitu kami memanggilnya, sangat selektif terhadap berbagai opsi yang ada.

Beliau mempertimbangkan bahwa Buku ini harus sukses dengan pertimbangan cetak harus bagus, penerbit tidak ribet dan memiliki reputasi baik, naskah dan layout tidak diutak-atik lagi, dan yang terpenting keuntungan berlipat. Karena buku ini sedianya akan dijadikan sarana menjembatani guru mengaji yang ingin umroh. Kami sejak awal bergabung sebagai penulis yang berkontribusi terhadap lahirnya buku ini telah sangat ridho dan ikhlas bahwa ini adalah bentuk amal jariyah kami. Ini adalah wujud cinta kami kepada saudara-saudari kami yang mengabdi sebagai guru mengaji, yang biasanya digaji sangat rendah, bahkan jauh dari layak. Padahal mereka yang berjuang untuk kehidupan akhirat kita yang lebih baik. Mereka yang mati-matian membentuk kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri kita. Dan bahkan gajinya sangat kalah jika dibandingkan dengan pengisi acara TV yang siang-malam merusak akidah dan akhlak umat.

Wujud cinta kita sangat bisa diaplikasikan ke berbagai macam cara. Bisa dengan hanya tersenyum dan mendengar keluh kesah sahabat kita. Bisa dengan mengunjungi teman yang sakit. Bisa dengan tidak berkata yang menyakiti hati orang. Bisa juga dengan bersedekah.

Semua kebaikan ini jika kita lakukan dengan tulus ikhlas mengharap ridho Allah swt, maka Allah swt pun ridho kita sbg hambaNya yang disayangNya.

 

#rumbelmenulis_iip_pekanbaru

#tantanganmenulis_februari

#day2

#cinta

Apa itu Mimpi?

Apa itu mimpi?

Ia nya yang dibayangkan akan menjadi nyata

Apa itu mimpi?
Ia nya yang diperjuangkan wujudnya

Apa itu mimpi?
Ia nya yang dengan itu doa-doa terlafazh

Apa itu mimpi?
Ia nya yang dengan itu keyakinan menjadi teguh

Apa itu mimpi?
Ia nya yang dengan itu tekad menjadi kuat

Apa itu mimpi?
Ia nya yang dengan itu menggenggam bara semangat

Apa itu mimpi?
Ia nya yang dengan itu segenap totalitas diri menjadi satu untuk meraihnya

 
#rumbelmenulis_iip_pekanbaru
#tantanganmenulis_februari
#day1

 

***

Ini adalah puisi pertama saya di blog ini

Semoga selanjutnya bisa lebih terasah lagi dalam berpuisi

Sekian lama tidak berpuisi

Mungkin kedepannya akan lebih meluangkan waktu untuk berpuisi sebagai sarana melepas hal-hal yang perlu diejawantahkan

Opiniku: Hal Menyedihkan di Balik Proses Pemilu

Musim PEMILU ini sangat menarik minat saya untuk membahas mengenai pemilu. Kata pemilu ini sudah saya dengar, saya tahu dan saya kenal sejak saya sekolah di bangku SD, melalui mata pelajaran PPKN. Kalau sekarang mungkin namanya PKN. Pemahaman saya dulu mengenai pemilu, ia adalah bagian perangkat dari sistem demokrasi. Namun seiring dengan bertambahnya usia, pergaulan, wawasan, buku bacaan, dll. Akhirnya untuk saat ini saya dengan yakin mau berbagi opini dari sudut pandang saya mengenai mengenai pemilu dan yang ada hubungannya dengan itu, yaitu golput (golongan putih).

Pemilu adalah suatu sarana atau cara pemilihan yang secara umum dilakukan untuk memilih Ketua, Presiden, atau Kepala. Semacam itu. Dipilih dari beberapa kandidat calon yang mencalonkan diri dan diusung pendukungnya. Masing-masing Paslon (Pasangan Calon) memperkenalkan diri dan juga memberi info pada khalayak mengenai visi misinya dalam suatu moment yang disebut kampanye.

Kampanye tidak mungkin tidak, pasti membutuhkan dana yang banyak sekali. Mulai dari pasang banner, poster, sebar flyer, bikin buzzer di dunia maya, dll. Tidak hanya masa kampanye yang menghabiskan uang. Pada saat pemilihan berlangsung masing-masing calon dituntut dari kondisi untuk menyiapkan tim pengawas bila ada kecurangan dari masing-masing lawan. Biasanya membayar saksi di TPS, kisarannya 50.000-100.000 per orang. Belum lagi serangan fajar, apa itu? Serangan fajar itu aksi rahasia umum dari masing-masing tim sukses untuk memberikan suatu sogokan agar masyarakat memilih sesuai dengan pesanannya. Biasanya sembako, kerudung untuk ibu-ibu, uang 30.000-50.000 bayangkan jika dikalikan berapa juta penduduk negeri ini. Habisnya berapa miliar? Berapa triliun? Dana sebanyak itu darimana? Dari pemodal? Siapa pemodalnya? Kemudian sumber dana lainnya juga darimana? Apa ada indikasi mark up proyek pemerintah? Kemudian apa ada indikasi korupsi disitu? Nah, ini sudah tidak perlu lagi saya beberkan buktinya, anda sebagai pembaca saya yakin sudah cerdas ketika menyaksikan berita politik yang ada, kemudian membaca penelitian mahasiswa mengenai politik, membaca semua hal yang berkaitan dengan ini. Ini nyata dan semuanya ada jika mau dicari melalui satu kali klik google.

Bayangkan! Kita memilih pemimpin dengan jalur yang bobrok seperti ini. Kemudian ada yang menangkis dengan argumentnya, yang salahkan oknumnya bukan caranya. Nah, kalau menurut saya, yang salah itu cara yang melahirkan tindakan oknum yang juga salah. Bayangkan kalau caranya memang lurus aja, menutup semua kemungkinan tindakan buruk yang berpotensi menciderai prosesnya. Keluarga besar saya ada yang terjun di politik praktis yang sekarang ini, jadi saya beberapa hal juga melihat sendiri bagaimana orang yang masuk ke dalam sistem yang rusak akan tergerus ikut arus kerusakannya.
Terlebih lagi pemilu ini diadakan sebagai ajang pesta demokrasi. Bagaimana umat ini akan bangkit menuju kebangkitan hakiki jika memang jalannya melalui sistem yang nyata-nyata dia dilahirkan untuk merusak umat, merusak Islam. Akan sangat sia-sia dan memperlambat perjuangan penegakan kebangkitan umat ini. Saya berharap umat bangkit dengan mata terbelalak bahwa berjuang dalam sistem yang rusak akan menyia-nyiakan semua daya upaya yang telah kita kerjakan. Umat akan terlena, umat akan ikut arus. Umat akan terus dijadikan mainan atau dagelan politik para pemilik kepentingan. Kita akan terus dijajah secara pemikiran dan secara lahiriah. Kebusukan janji paslon yang ada selama kampanye sangat melenakan. Seolah kita terinjeksi dalam halusinasi untuk mengkhayalkan kesejahteraan di masa depan yang semu.
Sudah saatnya umat bangkit. Melawan dan bersatu berjalan mengarah pada suatu jalan yang sama, mengupayakannya dengan kesungguhan dan keimanan. Memilih pemimpin sesuai dengan ketentuan syariat Islam yang rahmatan lil alamin.

Opini: Tata Kelola Sampah di Pekanbaru

Sejak saya menginjakkan kaki di Kota Pekanbaru ini, hal yang pertama kali saya soroti adalah cuaca yang cenderung panas, membuat berkeringat, air yang asam dan berwarna kekuningan, ruko di deretan jalan kota dengan jarak bangunan ke bibir jalan begitu panjang, pohon taman kota yang kurang, gersang, drainase buruk, dan tentu saja sampah. Kalau disebutkan ternyata banyak juga ya. Ini pernyataan jujur saya mengenai apa yang saya rasakan ketika mendarat di Pekanbaru. Tentu saja, yang namanya hidup ada hal yang disuka dan tak disukai. Dan yang saya sebutkan diatas adalah beberapa hal yang kurang saya nikmati selama tinggal disini. Hal yang saya sukai dan syukuri banget juga banyak. Ga kehitung.

Eh iya, tambah soalan, macet semrawutnya lalu lintas jalan. Pak Polisi kemana ya? Sedih banget, jarang lihat polisi berjaga di pos yang sudah disediakan. Kadang lampu lalin mati, masyarakat main serobot sendiri. Lampu lalin nyala aja banyak yang nyrobot. Apalagi kalau mati. Jangan dibayangkan, horor. Haha. Berasa orang sini ini punya 9 nyawa. Kalau habis bisa “kulakan” lagi di Pasar Arengka. Haha.

Nah, saya mau ambil bahasan ke satu titik. Titik itu, terus fokus kita kerja, Yo yo ayo. Eh jadi auto nyanyi. Haha.

Saya mau bahas hal yang baru-baru ini saya alami. Yaitu terkait sampah.

Karena untuk waktu yang lama, kurang lebih 25 hari, suami saya pergi safar ke Luar Negeri, saya agak bingung untuk satu hal, yaitu sampah. Karena biasanya sampah yang bagian buang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) adalah suami. Jaraknya jauh, harus pakai motor, terus sampahnya berat, buangnya harus subuh-subuh. Katanya maksimal jam 7 sudah tak boleh buang lagi.
Sebenarnya, malam sebelumnya saya sudah buang sampah. Karena malam, jadi saya khawatir kalau ninggal anak. Apalagi suami nggak ada, takut fitnah. Proses buang sampah pertama nyaris gagal karena di tengah jalan plastik sampah bredel alias jebol. Saya mau nangis karena bingung banget, mau saya tinggal gitu aja, tapi hati nurani tak membolehkan, saya pasti nggak bisa tidur kalau itu saya lakukan. Karena kayak orang tak bertanggung jawab.

Akhirnya setelah menghela nafas panjang, saya putuskan untuk membawa satu kresek kecilnya terlebih dulu. Baru saya balik lagi ke lokasi tadi ambil kresek yang besar. Kresek yang besar ini saya bingung lagi. Karena tangan saya tak mampu membawanya dengan satu tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya pegang gas.

Akhirnya saya korbankan gamis untuk memangku kresek sampah ini.

Sepulangnya buang sampah dekat TPS ada orang jual martabak mesir, beli satu buat reward pada diri sendiri karena udah berhasil menyelesaikan challenge yang ada. Juga dimakan sama anak-anak karena mereka dengan sabar dan mandiri mau ditinggal Bundanya agak lama, dengan menjaga adiknya.

Beberapa hari berlalu, saya tak mau mengulangi kesalahan yang lalu, buang sampah sekali langsung banyak. Maka saya buang kresek sampah yang masih belum banyak. Kali ini saya pilih waktu subuh. Karena malam saya takut fitnah juga. Jam 6 kurang saya berangkat. Di TPS dicegat oleh orang yang mengaku petugas SATGAS Kebersihan.

Dengan cara yang buruk dia mengusir saya.
P: Nggak boleh buang sampah disini Buk! Jangan disini! (Dengan nada tak sopan, tangan menghalau-halau mengusir)
S: Oh begitu, kalau gitu dibuang dimana dong sampahnya?
P: Ya terserah Ibuk mau buang dimana aja terserah, yang penting jangan disini, terserah mau dibuang dimana-mana
S: Dimana-mana itu dimana Pak? Kasih tahu dong yang jelas. Kalau dikasih tahu lokasinya saya sekarang juga kesana buang sampah ini.
P: Emm dimana ya, aduh lupa saya juga lokasinya terdekat dari sini. Ah pokoknya jangan buang disini. Nggak boleh. Kalau mau buang disini malam. Jangan pagi.
S: Masalahnya ini kan juga bukan TPS. (Fyi, ini adalah trotoar dan taman pinggir jalan yang sehari-hari dipakai buang sampah)
P: (Glagapan) Pokoknya nggak boleh buang disini. Terserah mau gimana caranya. Atau nggak telan aja sampah itu.
S: (Kurang ajar ini orang #batin tapi saya nggak boleh terpancing emosi, saya harus tetap sampaikan apa yang saya harus sampaikan dengan cara yang baik) Lho kok gitu jawabannya, Bapaknya bilang petugas tp tidak tahu lokasi TPS, solusi juga nggak ada. Saya sebagai masyarakat mau nanya, dimana kami harus buang sampah kami? Coba tanyakan Kepala Dinas, Bapak! Dimana? Nggak ada kan. Kami masyarakat bingung mau buang sampah dimana. Dinas nggak ada ngasih fasilitas untuk TPS. Coba sekarang tanyakan. Sampaikan pertanyaan saya ini.
P: (Dia emosi tapi juga berusaha nahan karena takut dan nggak bisa jawab, dia sempat yang mau ambil foto/video saya, tapi nggak jadi, entah mau dibikin viral atau apa) Gini aja deh Buk. Nanti Ibuk jam 8 kesini lagi, ada tuh orang yang nyari sampah untuk dibeli. Jangan kwatir malah dibeli sampah Ibuk.
S: Ini nih sampah Pampers, nggak bisa diolah. Jd nggak bisa dibeli. (Aduh saya mulai ikutan gila kalo lama-lama disitu)

Akhirnya saya pergi, pulang balik ke rumah taruh sampah di teras, baru keluar lagi belanja.

Fyi, masalah sampah di Pekanbaru ini bukan hanya saya yang merasakan. Tapi kebanyakan warga disini mengeluhkan hal yang sama. Tidak tahu kemana lagi harus buang sampah. Bahkan dulu pernah tahun 2016/2017 saya lupa. Pasukan kuning yang biasa angkutin sampah di jalanan tiba-tiba mogok kerja. Dengar-dengar karena belum dapat kejelasan pembayaran dr Dinas terkait dengan perusahaan tsb atau bagaimana jelasnya. Ini sy belum dapat kejelasannya. Tapi yang jelas, sampah di jalanan menggunung, jadi bukit sampah, bau-nya kemana-mana. Masyarakat mulai resah. Gundukan sampah rumah tangga yang dibuang di pinggir ruas jalan kota. Hal ini berlangsung selama berminggu-minggu.

Saya sebagai masyarakat bingung. Apa gunanya RT/RW tapi urusan sampah warga aja tidak ada diskusi bersama. Cuma arisan bulanan. Selama ini sampah di sekitar rumah kami dikelola sendiri oleh masing-masing rumah tangga. Mereka membuang sampah di lahan-lahan kosong. Ada yang dibuang begitu saja, lalu pergi seenak kepalanya. Ada yang dibuang terus dibakar.

Lalu apa gunanya Dinas Kebersihan dan Lingkungan kalau dalam kinerjanya tidak ada manfaat lebih untuk masyarakat? Masyarakat membutuhkan TPS. Jangan jadikan taman trotoar sebagai TPS-Sementara. Harusnya ada anggaran untuk beli satu lahan ditiap wilayah, desa atau apa begitu, untuk TPS. Jadi warga bisa membuang sampah dengan layak dan tidak menggangu kesehatan publik.

Nah, langkah selanjutnya bisa digalakkan mengenai program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) melalui Bank Sampah ditiap RW atau Kelurahan. Masyarakat butuh edukasi dan difasilitasi. Semoga Pekanbaru kedepan lebih baik lagi dalam hal tata kelola sampah. Karena ini menyangkut kesehatan masyarakat.

Review: Makna Kebahagiaan dalam Islam

Rabu, 19 Desember 2018
Kelas The Worldview of Islam
Oleh Ust M. Rahman
(Ditulis ulang dg redaksi tambahan, namun tdk mengubah esensi pembahasan)

 

*Makna Kebahagiaan dalam Islam*

 
Apa makna bahagia?
Jika dalam pandangan psikologi, makna bahagia sangat sempit. Dia hanya menyelami rasa. Bahagia baginya adalah tentang rasa kepuasan hidup, ketenangan, penerimaan, kasih sayang, prestasi yg didapat oleh seseorang yang membuat perasaannya senang.

Namun, sbg seorang muslim, tentu semua kembali pd kitabullah. Makna bahagia dalam pandangan Islam adalah ketika kita mendapat hasanah di dunia dan di akhirat jauh dr api neraka. Merujuk pada doa sapu jagad.

Hasanah itu apa?
Tadi Ust Rahman (belum menjelaskan rinci, atau sudah tp saat sy nganter.Hayfa ke Ayahanda).
Baca di google, Hasanah/kebaikan di dunia dan akhirat itu mendapat rizqi, ilmu, akhlak baik, istri sholihah. Di akhirat dijauhkan dr api neraka.

Jadi, bukanlah mrk yg kaya raya, lantas mrk bahagia?
Ada org kaya bunuh diri? Ada.
Ada org cantik/ganteng tp kemudian gila?
Ada.
Krn mrk hny kaya materi tdk mendapatkan hasanah.

Jd org kaya itu jk jiwanya kaya. Dan hatinya qona’ah (merasa cukup).

Mau bahagia?
Ikuti ayat ini:

Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صٰلِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

Ada 2 hal dr ayat diatas yg penting utk digaris bawahi:
1. Beramal Sholih
2. Beriman

Landasannya adalah keimanan. Menjalankan amal sholih krn keimanan. Bukan krn hal lain. Bukan dg niat selain krn Allah. Krn ada syirik kecil yg halus dan susah dideteksi, ialah Riya’. Beramal krn ingin dilihat orang, beramal krn selain Allah swt. Na’udzubillah..

Ada atau tidak orang melakukan kebaikan tanpa beriman? Ada, orang kafir. Sebaik dan sebanyak apapun kebaikan yg ditunaikannya, tdk akan dicatat oleh Allah swt krn mrk tdk mengimani Allah swt.

So, jika kita ingin hidup kita dipenuhi kebaikan maka lakukan amal sholih dg keimanan.

Bukan berarti tdk diuji. Bukan berarti tdk ada ujian hidup.

Tp ketika apapun itu kondisinya, mau sdg diuji atau dilapangkan, tetap batinnya tenang, akhlaknya baik.

Dan amal sholih itu tdk hny berkaitan dg ibadah mahdoh sj, hrs seimbang habluminallah dan habluminannas.

Memahami posisi kita dimana. Apakah kita seorang anak? Atau istri dan ibu?
Maka lakukan amal sholih sesuai posisi kita dg keimanan.

Pertanyaan Ukhty Riza:
Apa itu berkah?
Berkah: penambahan kebaikan, sesuatu mendatangkan kebaikan
Kemudian perhatikan ayat berikut:

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ أَعْمٰى
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 124)

Orang yang hidupnya susah, merasa banyak masalah trs menerus, dan sempit. Sudah tertera dlm ayat diatas.

1. Peringatan bagi org yg berpaling/tdk mengikuti perintah Allah bahkan mendustakan.
2. Maka penghidupan (ma’iisyah) akan sempit.
3. Allah akan kumpulkan di hari kiamat dlm keadaan buta.

Jika sudah beramal sholih tp msh merasa sempit/belum bahagia, mungkin dlm beramal msh kurang/hilang keikhlasannya.

Maka dr itu, seni menikmati hidup adalah merasa cukup (qona’ah). Melihat byk org yg msh kurang beruntung drpd kita.

Namun utk pandangan akhirat, hendaknya merasa kurang. Melihat org rajin baca Al Qur’an, kita “iri”, melihat org yg tinggi ilmu agamanya kita merasa kurang. Dan memacunya spy lbh baik.

Org beriman akan selalu baik akhlaknya apapun kondisinya, baik itu lapang/sedang diuji. Syarat menjadi baik tsb ada 2:
1. Kalo diberikan kebaikan bersyukur.
2. Kalo diuji, sabar.

*_Kebahagiaan » beramal sholih dg landasan keimanan_*

Sy jd teringat slogan Ust Felix Siauw
*”Taat bahagia, Maksiat sengsara”*

Wallahu’alam bswb